Mengenal SDLC



Rekayasa perangkat lunak atau software pada sebuah personal computer (PC), sangat bermanfaat terutama untuk meringankan pekerjaan manusia dengan perantara perangkat komputer. Salah satu rekayasa perangkat lunak yang dapat Anda lakukan, yaitu Software Development Life Cycle disingkat SDLC. Bagi orang awam yang tidak begitu mengenal program perangkat lunak komputerisasi, tidak akan tahu apa itu SDLC. Berikut akan sedikit dijabarkan mengenai SDLC, pengenalannya, aplikasinya, maupun peran serta manusia dalam rekayasa perangkat lunak tersebut.

Apa itu SDLC?

Software Development Life Cycle (SDLC) jika diartikan dalam bahasa Indonesia, yaitu daur hidup perangkat lunak atau software. Dalam arti, segala aktivitas dari satu atau lebih bagian dari perangkat lunak mulai dari desain awal pembuatannya, aplikasi dalam sebuah sistemnya, hingga perawatan secara menyeluruh atau bisa disebut rekayasa perangkat lunak. Oleh karena itu, SDLC sangat bergantung pada sikap manusia yang menjadikannya sebuah sistem. Mau dijadikan apa software ini, lalu mau diaplikasikan dalam bentuk apa, dan awet tidaknya software ini sampai kapan. Semua itu yang menentukan manusia dalam hal ini brainware atau usernya.

Sebuah pengembangan perangkat lunak, dapat menempatkan SDLC di dalam prosesnya. Pasalnya, proses rekayasa perangkat lunak terkait model serta metodologi yang digunakan, hal itu terdapat pada SDLC. Dengan pengembangan yang dibuat, sebuah perangkat lunak mampu dijadikan berfungsi lebih hebat lagi. Software yang mampu membantu pekerjaan manusia dalam sistem komputerisasi.

Tahap perencanaan (planning)

Dalam sebuah rekayasa perangkat lunak, hal pertama yang perlu dilakukan adalah merencanakan atau planning dari sebuah konsep awal software tersebut. Mau dijadikan atau difungsikan seperti apa perangkat lunak tersebut. Selain itu, software yang terbentuk dapat dioperasikan pada sistem operasi atau Operating System (OS) komputer apa saja, apakah OS berbasis Windows, Linux, atau bisa keduanya. Semua itu dilakukan dalam tahap planning.

Dalam tahap ini, segala yang berhubungan dengan pembentukan software dipelajari dan disimpulkan dengan nyata. Dalam arti, proses SDLC dapat dilakukan yang bertujuan untuk mengubah sebuah software dengan fungsi biasa-biasa saja menjadi software yang luar biasa. Biasanya, proses ini memakan waktu cukup lama tergantung dari tingkat kesulitan dan tujuannya.

Tahap analisis

Tahap selanjutnya dalam rekayasa perangkat lunak adalah analisis, di mana software yang ingin direkayasa dianalisis secara menyeluruh, hingga bagian-bagian informasi terkecil dari perangkat lunak tersebut. Jadi, seorang user dapat saja ‘membedah’ sebuah software OS untuk dilihat isinya agar dapat dlihat informasi di dalamnya. Namun demikian, user jangan sampai mengubah apalagi merusak informasi dasar dari perangkat lunak tersebut. Dengan tujuan, software yang berhasil direkayasa tidak kehilangan jati diri atau originalitasnya. Pasalnya, dalam rekayasa perangkat lunak sebuah software yang telah berubah, suatu saat nanti oleh sang user dapat dikembalikan kembali ke wujud aslinya atau fungsi awalnya. Hal seperti itu sudah lumrah terjadi.

Tahap desain atau perancangan

Tahap selanjutnya adalah desain atau perancangan. Dalam arti, user merancang software untuk direkayasa sesuai keinginannya. Mau dijadikan apa software tersebut, terserah keinginan user. Oleh karena itu, bagi seorang yang ahli di bidang pengembangan perangkat lunak, sebuah software dapat dijadikan seperti mainannya sehari-hari.

Dalam merancang sebuah software, user dapat mencontoh atau mengadopsi software hasil rekayasa orang atau kelompok lain. Namun, jika user ingin merancang sebuah perangkat lunak yang berbeda dari yang lain dikarenakan fungsinya juga berlainan. Hal itu terserah dari user saja. Di sini aspek ideliasme dari user lebih menonjol dalam merancang dan merekayasa sebuah software.

Tahap implementasi (implementation)

Pada tahap ini, user sudah berhasil merekaya sebuah perangkat lunak sesuai keinginannya. Selanjutnya, software tersebut tinggal mau diimplementasikan atau diaplikasikan dalam peralatan elektronik apa, atau langsung diinstal di PC. Sebagai contoh sederhana, sebuah perangkat lunak pemutar lagu dan film yang biasa dipakai dalam perangkat komputer pribadi. Sekarang, setelah direkayasa software tersebut akan diaplikasikan ke sebuah smartphone atau gadged. Meskipun terlihat sedikit memaksa, tetapi user biasanya telah menyesuaikan spesifikasi dalam preangkat lunak tersebut agar mampu dijalankan di smartphone.

Jika terasa tidak pas atau hasilnya kurang maksimal, user dapat mengulangnya dari awal. Mengutak-atik perangkat lunak tersebut agar mau dijalankan di perangkat yang lebih kecil. Tahap implementasi ini dapat dilakukan berulang kali tergantung dari hasil rekayasa perangkat lunak yang didapatkan dan kepuasan dari user sendiri.

Tahap uji coba (testing)

Tahap selanjutnya dalam rekayasa perangkat lunak, yaitu uji coba atau testing. Perangkat lunak yang telah lolos tahap implementasi dapat segera dipakai dengan aman dalam sebuah uji coba. Namun perlu diingat, uji coba ini hanya sebatas untuk mengetahui perangkat lunak tersebut sudah cocok atau belum jika diaplikasikan dengan perangkat lain selain PC. Jika ternyata belum, user dapat melakukan uji coba lagi hingga semuanya fixed atau tetap.

Tahap uji coba untuk pertama kali biasanya tidak berjalan mulus alias gagal. Pasalnya, sebuah software yang baru saja direkayasa harus menyesuaikan diri dengan perangkat keras untuknya. Ibaratnya, Anda baru saja pindah dari rumah yang cukup besar ke rumah yang kecil, pasti memerlukan waktu beradaptasi. Begitu juga dengan sebuah software hasi rekayasa.

Tahap pengelolaan (maintenance)

Tahap terakhir dari sebuah rekayasa perangkat lunak, yaitu pengelolaan atau maintenance. Pada tahap ini, user perlu melakukan perawatan maupun upgrade pada software hasil rekayasa miliknya. Dengan tujuan, perangkat lunak tersebut mampu bertahan lama dalam sebuah hardware atau perangkat keras tertentu. Perbaikan dalam komponen software perlu dilakukan jika memang ada yang bermasalah. Pasalnya, sebuah software hasil rekayasa tidak dapat berumur panjang jika perangkat kerasnya juga tidak mendukung jalannya operasi.

User juga perlu menempatkan software pada lokasi yang dianggap aman, tidak mudah terinfeksi virus, sehingga ketahanannya dapat diandalkan. Selain itu, tahap pengelolaan pada perangkat lunak dianggap dapat menjamin seorang user dibantu dengan teknologi yang ada. Dalam arti, perangkat lunak tersebut membantu manusia yang menciptakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, perangkat lunak dapat difungsikan lebih lama.

Dari tulisan di atas dapat diambil kesimpulan jika SDLC atau rekayasa perangkat lunak dapat dilakukan oleh semua orang atau user yang tentu saja paham mengenai bidang ini. Rekayara perangkat lunak bertujuan utama untuk memudahkan manusia sebagai brainware dalam pekerjaannya maupun kesehariannya. Dengan demikian, antara manusia dengan sistem komputer dapat hidup berdampingan. Namun, manusia juga harus paham akan kegunaan atau fungsi dari sistem perangkat lunak, agar tidak terjebak dalam kondisi sangat bergantung pada komputerisasi. Manusia tetaplah makhluk hidup yang bernyawa dan bernapas, sementara komputer hanyalah mesin yang diciptakan oleh manusia. Rekayasa perangkat lunak menjadi salah satu jalan atau cara manusia dapat bekerja sama dengan mesin seperti komputer.

Leave a Reply